Beda Banget! Cunca Plias Waterfall Labuan Bajo, Update 2026!
Cunca Plias ditempuh 1,5 jam dari Labuan Bajo dengan trekking 30 menit. Air terjun Cunca Plias waterfall labuan bajo ini langsung menghadap panorama epik.
Kita hampir putar balik.
Serius.
Mobil udah nanjak berkelok hampir satu setengah jam dari Labuan Bajo kota.
Jalannya muter-muter.
Kadang halus.
Kadang berlubang.
Tamu gue — Australia dan Kanada campur — mulai nanya,
“Are we still far?”
Gue lihat GPS.
Masih ada.
Dan makin ke atas, sinyal makin hilang.
Bukit kiri kanan kering.
Kadang lewat kebun warga.
Kadang cuma tebing dan langit luas.
Dan di titik itu, gue sadar.
Perjalanan ke Cunca Plias bukan tipe yang instan.
Akhirnya sampai di starting point.
Area sederhana.
Nggak ada café.
Nggak ada restoran.
Cuma pos kecil dan beberapa warga lokal.
Kita bayar tiket.
50 ribu per orang.
Sudah termasuk guide lokal.
Dan menurut gue itu worth it.
Karena jalurnya nggak semua orang tahu kalau tanpa pemandu.
Guide kita santai.
Senyumnya lebar.
Dia bilang,
“Kurang lebih 30 menit jalan.”
Tamu gue langsung tarik napas.
Lagi.
Trekking mulai dari jalan aspal pendek.
Masih santai.
Masih bisa bercanda.
Lalu berubah jadi tanah merah.
Masuk kebun warga.
Pohon-pohon kecil.
Udara makin lembap.
Dan makin lama jalurnya makin natural.
Masuk hutan kecil.
Akar pohon muncul di jalur.
Beberapa batu licin.
Keringat mulai keluar.
Dan sepanjang jalur itu, kita lewatin tiga air terjun kecil dulu.
Gue jujur lupa namanya.
Belum sempat ambil foto detail juga.
Next time gue update.
Tapi ketiganya kayak teaser.
Alirannya lebih kecil.
Cantik.
Tapi bukan yang bikin lo bengong.
Dan guide cuma bilang,
“Yang terakhir paling bagus.”
Oke.
Ekspektasi mulai naik.
Suara gemuruh mulai kedengeran dari jauh.
Pelan dulu.
Lalu makin jelas.
Dan pas kita turun sedikit lewat bebatuan terakhir…
Air terjun terakhir itu muncul.
Itu dia.
Cunca Plias.
Dan jujur.
Semua langsung diam.
Kenapa Harus ke Cunca Plias?

Karena air terjun terakhir ini beda.
Dia nggak cuma jatuh ke kolam.
Dia langsung menghadap panorama.
Jadi lo berdiri di bawahnya, tapi background-nya bukit terbuka.
Langit luas.
Landscape Flores yang khas.
Dan itu kombinasi yang jarang.
Air terjun Cunca Plias jatuh deras.
Nggak terlalu tipis.
Nggak terlalu kecil.
Airnya putih kontras dengan batu gelap.
Dan kolam di bawahnya jernih.
Hijau kebiruan.
Tamu gue yang tadi hampir nyerah di mobil…
Langsung buka sepatu.
Tanpa banyak mikir.
Langsung turun.
Airnya dingin banget.
Beneran dingin.
Tapi setelah trekking 30 menit nanjak-turun tadi?
Itu rasanya kayak reset tubuh.
Cunca Plias waterfall labuan bajo punya vibe yang beda dari air terjun lain yang lebih tertutup.
Karena di sini lo tetap bisa lihat panorama terbuka.
Bukan cuma tebing rapat.
Jadi rasanya lebih lega.
Lebih luas.
Lebih dramatis.
Hal yang bikin tempat ini nggak bisa diremehin:
- Perjalanan 1,5 jam berkelok yang bikin terasa “dapet”.
- Tiket 50k sudah termasuk guide lokal.
- Trekking 30 menit lewat aspal, kebun, dan hutan.
- Lewat 3 air terjun kecil sebelum yang utama.
- Air terjun terakhir langsung menghadap panorama terbuka.
- Suasana masih alami, belum komersial berlebihan.
Dan semua itu bikin sensasinya beda.
Gue berdiri agak jauh.
Lihat tamu gue main air.
Teriak kecil.
Ketawa.
Ada yang cuma duduk di batu sambil kaki direndem.
Dan satu tamu Kanada bilang,
“This is so worth the drive.”
Itu kalimat yang paling gue tunggu dari awal.
Air Terjun Cunca Plias, Trekking Yang Mantap
Banyak orang pikir Labuan Bajo cuma laut dan island hopping.
Padahal sisi daratannya kayak gini.
Hijau.
Lembap.
Lebih tenang.
Air terjun Cunca Plias termasuk yang aksesnya butuh usaha.
Dan itu justru daya tariknya.
Perjalanan Ke Cunca Plias Waterfall
Dari kota Labuan Bajo sekitar 1,5 jam naik mobil.
Jalanan berkelok dan nanjak.
Beberapa titik cukup tajam.
Kalau lo gampang mabuk darat, siapin obat.
Begitu sampai, bayar tiket 50 ribu per orang.
Guide lokal langsung dampingi sampai air terjun.
Dan menurut gue itu penting.
Karena jalurnya bercabang di beberapa titik.
Persiapan ke Cunca Plias

Catatan Jalanan – Ini penting banget.
Karena nggak ada restoran dekat sana.
Nggak ada warung besar.
Kalau lo nggak bawa makan siang, ya kelaparan.
Kita hari itu bawa bekal.
Makan di batu dekat air terjun.
Simple.
Nasi kotak.
Air dingin.
Dan entah kenapa rasanya lebih enak dari restoran mahal.
Karena lo makan habis usaha.
Gambar Cunca Plias yang gue ambil hari itu beda dari yang sering gue lihat online.
Karena kebanyakan foto fokus ke jatuhan airnya.
Padahal angle terbaik justru saat lo ambil dari samping dan kelihatan panorama bukit di belakang.
Cunca Plias photos yang dramatis itu yang ada layernya.
Air.
Batu.
Langit.
Bukit.
Dan manusia kecil di tengahnya.
Bikin scale-nya kerasa.
Satu tamu Australia duduk lama banget di batu.
Lihat air jatuh.
Nggak ngomong.
Gue tanya pelan,
“You good?”
Dia cuma angguk.
Dan itu cukup.
Kadang tempat kayak gini nggak butuh review panjang.
Cukup diam dan ngerasain.
Perjalanan balik trekking terasa lebih ringan.
Mungkin karena badan udah dingin.
Mungkin karena hati udah puas.
Tapi satu hal jelas.
Yang tadi di mobil hampir nyerah…
Sekarang malah bilang,
“We should do more waterfalls next time.”
Gue cuma ketawa.
Karena Flores masih banyak yang belum mereka lihat.
Kesimpulan
Cunca Plias bukan destinasi instan.
Lo harus siap perjalanan 1,5 jam berkelok.
Bayar tiket 50k per orang.
Trekking 30 menit lewat kebun dan hutan.
Lewat tiga air terjun kecil dulu.
Baru sampai yang terakhir.
Air terjun Cunca Plias yang paling besar dan paling dramatis.
Menghadap panorama terbuka.
Airnya dingin.
Kolamnya jernih.
Dan suasananya masih alami banget.
Buat gue yang bawa enam tamu Australia dan Kanada hari itu…
Awalnya mereka ragu.
Capek.
Setengah malas.
Tapi begitu berdiri di bawah Cunca Plias waterfall labuan bajo dan lihat bukit terbuka di depan mereka…
Semua keraguan hilang.
Dan di perjalanan pulang, mobil lebih hening.
Bukan karena capek doang.
Tapi karena puas.
Kadang yang bikin perjalanan berkesan bukan yang paling gampang dicapai.
Tapi yang bikin lo usaha sedikit.
Dan Cunca Plias kasih itu.
Tanpa drama.
Tapi nempel lama.



